• MASUKAN URL GAMBAR" />

a

Tarian Serimpi

Tarian ini adalah salah satu tarian dari daerah Jawa Tengah yaitu daerah surakarta

Tari Pendet

Tari Pendet adalah salah satu jenis tari dari indonesia yang berasal dari Pulau Bali

Tari Saman

Tari Saman adalah tari tradisional asal Indonesia dari daerah Aceh atau NAD

Tari Reog

Tari Reog adalah tari tradisional dari Indonesia yang berasal dari Ponorogo,Jawatimur

Tari Jaipong

Tari Jaipong adalah tari tradisional Indonesia yang berasal dari Jawa Barat

Tampilkan postingan dengan label ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibadah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Mei 2012

Falsafah Shalat Lima Waktu



 

Apa sebenarnya makna dari shalat lima waktu? Shalat lima waktu sebenarnya merupakan gambaran dari berbagai kondisi kita yang berbeda-beda sepanjang hari. Kita melewati lima tahapan kondisi pada saat sedang mengalami musibah dan fitrat alamiah kita menuntut bahwa kita harus melewatinya. Pertama, adalah ketika kita mendapat gambaran bahwa kita akan menghadapi musibah. Sebagai contoh, bayangkan ada surat panggilan bagi kita untuk menghadap ke suatu pengadilan. Kondisi pertama ini akan langsung meruyak rasa ketenangan dan keteduhan kita. Kondisi seperti menerima surat panggilan pengadilan ini mirip dengan saat ketika matahari mulai menggelincir. Sejalan dengan kondisi keruhanian tersebut ditetapkanlah shalat Dhuhur yaitu ketika matahari mulai menggelincir.

Kita mengalami kondisi kedua ketika kita sepertinya mendekat kepada tempat musibah terjadi. Sebagai contoh, setelah ditahan berdasar surat panggilan, tiba waktunya kita diajukan ke hadapan hakim. Pada saat demikian kita merasakan kegalauan perasaan dan beranggapan bahwa semua rasa keamanan telah meninggalkan diri kita. Kondisi seperti itu mirip dengan keadaan ketika sinar matahari mulai suram dan manusia bisa melihat matahari secara langsung serta menyadari bahwa sebentar lagi matahari itu akan terbenam. Sejalan dengan kondisi keruhanian seperti itu maka ditetapkanlah shalat Ashar.

Kondisi ketiga adalah keadaan ketika kita merasa kehilangan segala harapan memperoleh keselamatan dari musibah. Sebagai contoh, setelah mencatat bukti-bukti tuntutan yang akan membawa kehancuran diri kita, kita didakwa dengan bentuk pelanggaran dimana telah disiapkan surat dakwaan. Pada saat demikian, kita merasa sepertinya kehilangan semua indera dan mulai berfikir menganggap diri sebagai narapidana. Kondisi seperti itu mirip dengan saat ketika matahari terbenam dan harapan melihat terang hari sudah pupus karenanya. Diperintahkanlah shalat Maghrib yang sejalan dengan kondisi keruhanian demikian.

Kondisi keempat adalah ketika kita ditimpa musibah secara langsung dimana kegelapannya yang kelam telah menyelimuti diri kita. Sebagai contoh, setelah pembacaan bukti-bukti maka kita sepertinya lalu divonis dan diserahkan untuk dipenjarakan. Kondisi seperti itu mirip dengan keadaan malam ketika semuanya diselimuti kegelapan yang kelam. Untuk kondisi keruhanian seperti itu ditetapkanlah shalat Isya.

Setelah menghabiskan satu kurun waktu dalam kegelapan dan penderitaan, datanglah rahmat Ilahi yang meluap mengemuka dan menyelamatkan kita dari kegelapan dengan datangnya fajar yang menggantikan kegelapan malam dimana sinar pagi mulai muncul. Shalat Subuh ditetapkan untuk kondisi keruhanian seperti itu.

Berdasarkan kelima kondisi yang berubah terus tersebut maka Allah s.w.t. telah mengatur shalat lima waktu bagi kita. Dengan demikian kita bisa memahami bahwa shalat tersebut diatur waktunya bagi kemaslahatan kalbu kita sendiri. Bila kita menginginkan keselamatan dari segala musibah, janganlah kita sampai mengabaikan shalat lima waktu karena semua itu merupakan refleksi dari kondisi internal dan keruhanian kita. Shalat merupakan obat penawar bagi segala musibah yang mungkin mengancam. Kita tidak pernah mengetahui keadaan bagaimana yang dibawa oleh hari berikutnya. Karena itu sebelum awal hari, mohonlah kepada Tuhan kita yang Maha Abadi agar hari tersebut menjadi sumber kemaslahatan dan keberkatan bagi kita.

Selasa, 15 Mei 2012

Hikmah Puasa

 
Rasulullah saw bersabda: “Jika datang bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu:. (Muttafaq ‘Alaih)

Puasa Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, bulan yang berlimpah pahala. Hal yang Allah taala sendiri menyatakan demikian. Tetapi disisi lain hal tersebut tidaklah mengherankan bagi kita, karena memang bisa dikatakan Puasa Ramadhan adalah Mi’rajnya ibadah-ibadah –ibadah yang paling mulia yang didalamnya menyatu seluruh ibadah. Segenap ibadah mencapai puncaknya dan menjelma di dalam bentuk puasa.

Jadi seorang yang berpuasa, yang menahan lapar haus, dan hawa nafsu  - maka lapar hausnya itu tidak akan berbobot atau malah tercemar jikalau dia tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan maksiat lainnya. Lapar dan hausnya tidak juga akan bermutu jika ibadah puasanya tidak dihiasi dengan basahnya bibir dalam Zikir Ilahi, tidak dihiasi dengan ibadah-ibadah wajib dan ibadah sunnah. Begitu juga lapar dan hausnya itu tidak akan sempurna jika belum diikuti dengan amal saleh, khususnya sedekah.

Jadi tidak ada suatu indera manusia pun yang tidak terpengaruh oleh puasa. Setiap indera menjadi terkendali dibuatnya. Setiap keinginan manusia menjadi terikat oleh batasan, dan tidak merajalela. Semua itu karena puasa.

Maka dapat kita katakan babwa hakikat dari pintu-pintu neraka itu sebenarnya adalah pintu-pintu panca indera manusia. Apabila indera itu menjadi leluasa, dosa pun akan timbul. Maka melalui indera itulah manusia masuk ke dalam neraka. Jadi tertutupnya pintu-pintu neraka pada Bulan Ramadhan artinya adalah bahwa mukmin menutup bagi diri mereka seluruh pintu yang dapat membawa mereka ke neraka.

Membiasakan diri membaca dan mengkaji Alquran, membiasakan diri berzikir Ilahi, membiasakan diri berdoa, membiasakan diri memenuhi hak-hak sesame, membiasakan lidah sama sekali suci dari dusta, membiasakan diri untuk berkata benar dan bersih, membiasakan diri berkata lurus – semua kesempatan ini hanya dapat diperoleh melalui puasa.

Bukalah pintu Kebaikan dan Tutuplah Pintu-pintu Keburukan

Dari sabda Rasulullah saw diatas, bahwa di bulan Ramadhan ini seluruh pintu neraka ditutup , dan bersamaan dengan itu beliau juga bersabda bahwa seluruh pintu surga dibuka. Hikmah yang bisa kita ambil disini adalah janganlah hanya melihat dari sisi larangan saja, melainkan lihat juga sisi positifnya. Jika disatu sisi kita tidak membukakan pintu kebaikan bagi setiap indera dari kelima indera kita, kita memang mungkin tengah menutup pintu-pintu neraka, akan tetapi tanpa tujuan. ebab sebagai balasannya tidak satupun pintu kebaikan yang terbuka.

Jadi artinya adalah sebagai ganti dari setiap keburukan ciptakanlah kebaikan. Dan sebgai ganti dari suatu kondisi buruk , ciptakanlah suatu keindahan. Sehingga dengan melalui satu bulan penuh secara terus menerus dengan upaya gigih tersebut, maka keburukan-keburukan kita akan terlepas dan tertinggal ke belakang. Dan kebaikan-kebaikan kita semakin bertambah maju akibat berkah-berkah Ramadhan, melesat kedapan dengan cahaya yang luar biasa. Sehingga setiap Ramadhan datang kondisi kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Inilah yang merupakan maksud dari puasa.
Baca tulisan lainnya